REINKARNASI WAHYU SANG PAMOMONG SATRIO PINANDHITO - 1 September 2009 - Blog - satriaputih212.do.am
Welcome My Site
Login form
Main » 2009 » September » 1 » REINKARNASI WAHYU SANG PAMOMONG SATRIO PINANDHITO
11:25 AM
REINKARNASI WAHYU SANG PAMOMONG SATRIO PINANDHITO

 “Cakra Manggilingan” merupakan fenomena keteraturan hukum alam yang mengacu pada tatanan “Sangkan Paraning Dumadi Jagad Gumelar  Manungsa Cinipta” secara konseptual harus terjadi pada suatu Negara atau Daerah dimana hal tersebut sudah menjadi “keyakinan” yang hakiki dan tidak boleh di ingkari. Adapun fenomena tersebut dalam dunia “pewayangan” telah tersirat dengan lakon-lakon seperti apa yang telah terjadi sebagai “garis kehidupan” suatu bangsa. Sampai dengan abad milenium sekarang inipun bahwa “reinkarnasi” kehidupan tersebut masih sangat mendominasi kehidupan manusia di dunia. Adapun tingkatan dalam reinkarnasi adalah sbb :

a)      Manitis, yaitu penempatan “Rokh” pilihan Tuhan untuk “nitis” pada orang-orang yang menjadi pilihan-NYA;

b)      Manitik, yaitu penempatan “Rokh” pada benda-benda mati seperti batu, gunung, sungai, besi dll;

c)      Manusup, yaitu penempatan “Rokh” pada pepohonan yang hidup;

d)     Manjalma, yaitu penempatan “Rokh” pada binatang hidup, sehingga sering kita lihat pada fenomena kehidupan “Wujud manungsa solah bawa kadya sona”

Dalam telaah budaya jawa kami mencoba melihat fenomena  gambaran kehidupan wayang di Purworejo Hadipurwo yang tercermin dari pola dan tatanan kehidupan pada saat sekarang ini,  semoga hal ini bisa menjadikan cermin dan tauladan serta pengetahuan yang memiliki arti bagi sebuah perjalanan hidup untuk mencari inti hakikat  kehidupan yang sebenarnya.  

Setahun lebih empat bulan Purworejo Hadipurwo telah dianugerahi oleh “Wahyu Keprabon” (tepatnya Oktober 2005 yaitu saat pelantikan Bapak Kelik Sumrohadi, S.Sos, MM sebagai Bupati dan Bapak Drs.Makhsun Zain sebagai Wakil Bupati Purworejo Periode 2005 – 2010) dengan sinengkalan jaman “MARUTO SIRNA AMUMBUL ING SWARGO LOKA” (2005) artinya : saat terjadi peristiwa pengaunegarahan “Wahyu Keprabon” dari Allah SWT terjadi sedikit angin kencang karena suasana, namun segeralah angin tersebut sirna menuju surga yang paling terindah, sehingga “angin tersebut menjadi baik dan bersahabat” bahkan menjadikan kedamaian (adem, ayem, tentrem).  Karena wahyu tersebut  di sandang oleh pamengku Purworejo Hadipurwo  sebagai Ksatria yang berhak menyandang gelar nama “Satria Pinadhito”  yang sekaligus sebagai “Khalifah” di bumi Purworejo Hadipurwo ini.

Namun menginjak tahun 2009 ini wahyu keprabon lengah dengan Padawa “kalah main dadu” tersiratlah wahyu kembali pada Sang Pamomong (Semar Badranaya). Mahligai tahta purworejo akan diperebutkan kelak di tahun 2010 dengan sinengkalan jaman “UMBULING RATU SIRNA SAKEMBARAN” (2010) dengan arti terjemahan bahwa kelak Ratu di Purworejo akan harum tapi hilang begitu saja oleh  perseteruan dua bersaudara. ???? alahualam alahuakbar.  Maka untuk menananggulangi apa yang akan terjadi Ratu di Purworejo harus “Satria Pinandhita”

Kodrat yang telah menjadi hukum ketetapan Tuhan,  bahwa pengemban wahyu bukanlah sembarangan orang tetapi “Jalma Pinilih Kinasihing Dewa” yang telah diberi “Mukjizat” berupa  kekuatan HASTA BRATA yang berupa 8 (delapan) kepribadian watak yang meliputi : Watak (Bumi, Banyu, Geni, Angin, Surya, Rembulan, Lintang  lan Mendung), dengan penjelasan sbb : (sengaja kami rangkai dalam bahasa bahasa jawa)

 

1.      Ambeging BUMI :

Lire tansah adedana, karem ing reh bebungah marang sagung dumadi. Peparinge arupa sakabehing thethukulan kang tuwuh ing awake, suka lila den anlap dening sapa wae, apa iku kewan luwih-luwih manungsa. Aja maneh mung thethukulan, den paculi, dheweke tansah lega lila ora nduweni rasa serik; malah yen kebeneran bisa ngatonke pendheman raja brana, ndadekake bungahe kang ndudhuk.

2.      Ambeging BANYU :

Lire, ngluberake apura para marta, bisa ngenaki ati, ora cugetan ing ati, sanajan diangsu ditimba dicidhuki tetep pulih ora ana tepake, tansah andap asor ing budi, ananging yen murka bisa ambanjiri salumahing bawana.

3.      Ambeging GENI :

Lire, amisesa ing kalesa (rereget,cacad), bisa nglebur rereget ing bumi, ambabadi kang rungkut, amadhangi kang peteng, yen kalonggaran nora suda atine, nora gela cuwa, nora getun, bisa sareh, bisa sereng, nanging ora kawistara lakune.

4.      Ambeging ANGIN :

Lire, tan pegat niti priksa nganti kemput tepusing wates, agung tansah ngijen-ngijen ngisep swasana lan solahing dumadi bisa muksa agal alus, ageng alit amiguna ing aguna, lakune tanpa wangenan, pamrihe tanpa tengeran lan tanpa tilas, yen katolak tanpa sesak, yen katarik ora serik. Tetep lila legawa ing darma.

5.      Ambeging SURYA :

Lire, tansah sareh ing karsa, ririh ing pangandika, rereh ing pangarah, ruruh ing tindak tanduk, nora daya-daya kesusu antuka sabarang kang den pepe ing panasing srengenge, nora age-age den garingke. Lakune jejeg kadya lakune surya, tansah angarah-arah, patrape angarih-arih, pamrihe ing sabarang reh nora rekasa anggone misesa.

6.      Ambeging REMBULAN :

Lire, bisa anugraha memet ing prana, sumeh ing netra, alus ing budi anuwuhke rasa arum, sumarah sumrambah marang saisining jagad raya, uga amadangi sasamining gesang nora agawe panas ing sasami.

 

7.      Ambeging LINTANG :

Lire, tansah kukuh santosa bakuh nora keguhan, nora leres (nora mundur ngoncati) ing ubaya, nora lemeran ing karsa, tanpa samudana pitayan aten.

8.      Ambeging MENDHUNG :

Lire, nglempakake dana wasiyat, lire adil nora pilih kasih, danane  yen kebeneran aweh ganjaran ngudunake udan, wasiyat sapa kang nandhang luput katiban pamuksa pinidana ing guntur tanpa wasesa, adile anggone angawruhi ala becik bener luputing sadhengah, gebyaring kilat thathit minangka titipriksane, kang ala lan luput nampa pamuksa ukuman, kang becik lan bener nampa ganjaran.

Itulah delapan watak alam / jagad besar (Makro Kosmos) yang harus bisa disandang oleh manusia  yang tercermin dalam  jagad kecil (Mikro Kosmos) sebagai pengendali perilaku dalam kehidupan.

Selain itu dalam tataran kehidupan “Satria Pinandhito” dianugerahi kekuatan pemikiran jauh kedepan (“Waskitha”) yaitu “Ngerti Sakdurunge Winarah” semua itu terjadi karena kekuatan wahyu dan kepribadiannya mampu mengendalikan “Hyang Suksma Kawekas” dan yang lazim disebut dalam ajaran agama sbb : (Nur Muhamad (dlm Islam), Sang Krisna (dlm Hidhu/Budha), Roh Kudus (dlm Kristen/Katolik atau Sang Guru Sejati (dlm kepercayaan). Sebagai “Satria Pinandhito” dalam perjalanan hidupnya telah melalui “Penggodokan di Kawah Candaradimuka”  yang dilalui dalam duka dan nestapa melalui tapa brata, ketula-tula dan kelara-kelara sehingga “Satria Pinadhito” mampu bersatu dengan alam dan selalu tegar dalam menghadapi situasi apapun.

Dalam klaster kehidupan, bahwa “Satria Pinandhito” merupakan klaster yang berada di antara klaster (Brahmana/Panditha – Ksatria) sehingga “Satria Pinandhito” merupakan Ksatria ya juga Pandhito, oleh para ahli makrifat tingkat tinggi biasa disebut “Pangejawantahing Sang Pamomong” Klaster ini merupakan klaster dalam ajaran Agama Hindu/Budha yang meliputi (Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra) atau Pandhita/Ulama, Pejabat Negara, Punggawa/Pegawai dan Rakyat/Tani/Jelata.  Ksatria Pinadhito dalam menata pemerintahan merupakan pembuat kebijakan “Police Maker” sekaligus sebagai “Inspirator Maker” yang mana benar-benar menyuarakan suara Tuhan sesuai hati nuraninya tanpa tendensi pengaruh 4 sifat pengendali kehidupan (Sopiah, Amarah, Aluamah, dan Mutmainah), sudah pasti Satria Pinadhito adalah sosok yang mampu untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan mampu “Mati sakjeroning ngaurip” dalam rangka “Manunggaling Kawula kalawan Gusti”

Sebagai Ksatria yang juga Pandhito,  betapa tidak beratnya dalam rangka menata “Punggawa, Sentana dan Kawula” serta  mempersatukan visi dan misi untuk “ngrengkuh wong cilik” cobaan, cercaan dan makian silih berganti, namun karena darah “Ksatria” dan “Pandhito” nya telah menyatu dan kekuatan “wahyu” yang menyertainya,  sehingga Purworejo Hadipurwo bisa “adem, ayem, tentrem dan semoga gandem”  sehingga dalam teori politik sering di sebut bisa menjaga dan mempertahankan “Conditio Sine Quanoon” di  wilayah Purworejo Hadipurwo. Kembali pada “Punggawa, Sentana dan Kawula” bisa kita ibaratkan sebuah wayang di dalam kotak, nasib dan kehidupan wayang tersebut ditentukan oleh “Dalang” ya “ Sang Pamomong” tersebut. Bila “Sang Pamomong” lengah karena “akal, budi dan pambudi yang mestinya dalam fase lakon belum saatnya tampil ditampilkan, yach apa yang akan terjadi ??? terjadilah “Wayang Mbeling”. Demikian juga kita yakin  bahwa “Sang Pamomong” pasti tahu mana “wayang yang mbeling” dan mana “wayang yang tidak mbeling”. Sekaligus sangat tahu mana ”Wayang yang ngregoni” dan mana “Wayang yang njegali”, di dalam dunia politik “wayang mbeling” sangat identik dengan “kelompok oportunis” atau “kelompok abu-abu” yang sebagian besar “manjelma” menjadi  “Ksatria bertopeng” yang sulit dipantau “gerakannya”, hanya saja kami sangat kuwatir sekali bahwa wayang-wayang mbeling seperti inilah yang akan bakal terkena “tulak sare”, “kuwalat” bahkan terkena “hukum karma  karena “aura wahyu” yang telah menyatu dengan “Sang Pamomong Satria Pinandhito” di kianati. Dalam menjalankan dharma laku Ksatrianya bahwa Ksatria Pinandhito selalu berjalan pada rel kebenaran, keadilan, kesucian dan taat azas dalam pembuatan kebijakan baik “kebijakan populis” maupun “kebijakan non populis” sehingga bila menghadapi masalah selalu “Tan samar  pamor  ing  sukma” (tidak selalu khawatir dan percaya diri)

Demikian sekilas tentang telaah misteri “Sang Pamomong Satria Pinadhito” dalam kehidupan alam modern yang sulit dijangkau dalam wilayah pemikiran empiris kita yang terkadang logika kita menjadi buntu Karena semuanya “abstrak” adanya. Dalam tulisan ini kami tidak bermaksud menyudutkan kelompok tertententu, namun kami memberi suatu masukan positif “Bahwa kekuatan wahyu sangat-sangat “MALATI” jika di anggap remeh, hanya KEIKLASANLAH yang akan mengampuni jika ada yang terkena “karma” dari kekuatan wahyu tersebut. Semua ini hanya keyakinan dan iman-lah yang bisa menjawab tentang semuanya, untuk kebenaran kami serahkan pada yang di atas sana “Allahualam”.

 

 

Purworejo, 01 September 2009

 

 

 

 

SUTIYONO

Views: 4211 | Added by: satriaputih212 | Rating: 2.5/2
Total comments: 3
3  
Mas bobby alamat emailku :satriaputih212@gmail.com

2  
nuwun sewu bisa kirim alamat mas dan kontak personnya, ada sesuatu yang ingin saya diskusikan menyangkut topik ini, matur nuwun sakderengipun!

1  
TULISAN YANG BAGUS.EXCELENCE

Name *:
Email *:
Code *:
Calendar
«  September 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930
Entries archive
Site friends
  • Create a free website
  • Online Desktop
  • Free Online Games
  • Video Tutorials
  • All HTML Tags
  • Browser Kits
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0